Contoh Khutbah Idul Fitri Pendek

Contoh Khutbah Idul Fitri – Setelah kita menjalankan puasa bulan Ramadhan selama sebulan penuh tentunya kita akan merayakan momen yang paling berkesan yakni momen idul fitri.

Setiap muslim akan merasakan perasaan yang bahagia setelah selama satu bulan berperang melawan hawa nafsunya.

Perasaan gembira dan senang bukan hanya karena membeli baju baru, mendapatkan uang jajan, THR atau yang lainnya.

Perasaan gembira ini karena para umat muslim merayakan kemenangan mereka memerangi hawa nafsunya dengan cara berpuasa sebulan penuh.

Dalam hari raya idul fitri sendiri banyak amalan amalan sunnah maupun wajib yang di kerjakan oleh setiap muslim.

Amalan wajib itu seperti membayar zakat fitrah bagi yang mampu. Sedangkan amalan sunnah seperti menghidupkan malam hari raya dan juga sholat idul fitri.

Dalam menjalankan sholat idul fitri diawali dengan sholat berjamaah dua rakaat terlebih dahulu kemudian dilanjutkan dengan khutbah.

Hukum khutbah idul fitri adalah sunnah untuk di kerjakan. Setidaknya demikian, apabila kita mengikuti pandangan para ulama yang bermazhab As-Syafi’i.

Meskipun sunnah, namun tidak serta merta asal dilaksanakan. Akan tetapi juga ada tata cara dan rukun khutbah idul fitri yang sebaiknya memang dipatuhi.

Selain karena menjadi rukun juga agar pesan yang disampaikan bisa menyentuh para jamaah, bahkan ada yang sampai membuat jamaah menangis karena menyentuhnya pesan tersebut.

Rukun dan Tata Cara Khutbah Idul Fitri 2020

Naskah Teks Contoh Rukun Tata Cara Khutbah Idul Fitri Pendek Singkat dan Padat - Bosmeal.com
Rukun dan Tata Cara Khutbah Idul Fitri Pendek Singkat dan Padat

Sebelum kita membahas lebih jauh mengenai teks khutbah idul fitri, terlebih dahulu kita harus mengetahui rukun rukun dari khutbah tersebut.

Rukun khutbah ini sangat penting agar khutbah yang dikerjakan menjadi sah dan diterima. Untuk rukun dari khutbah idul fitri sendiri sama dengan rukun sholat khutbah jum’at.

Adapun rukun dan tata cara khutbah idul fitri 2020 sebagai berikut:

1. Memuji Allah di kedua Khutbah Idul Fitri

Untuk rukun khutbah idul fitri pertama adalah memuji kepada Allah di kedua khutbah.

Bentuk pujian ini menggunakan bahasa Arab dengan kata “hamdun” serta lafadz-lafadz yang sekata dengannya, seperti kata “alhamdu”, nahmadu” atau yang lainnya. 

Kemudian kata tersebut disandingkan dengan menggunakan lafadz jalalah yakni kata Allah, tidak cukup dengan memakai asma Allah yang lainnya.

Untuk pelafalan pujian kepada Allah yang benar seperti أَلْحَمْدُ لِلهِ (alhamdu lillah), نَحْمَدُ لِلهِ (nahmadu lillah), لِلهِ الْحَمْدُ (lillahi al-hamdu), dan sejenisnya. 

Kemudian dalam pelafalan memuji kepada Allah diperbolehkan menggunakan kata selain dari asal kata hamdun seperti أَشْكُرُ لِلهِ (asy-syukru lillahi).

Pelafalan ini tidak boleh karena lafadz asy-syukru bukan berasal dari kata hamdun. Kemudian tidak cukup juga hanya dengan menggunakan asma Allah seperti الْحَمْدُ ِللرَّحْمَنِ (alhamdu lir rahman)

2. Shalawat kepada Nabi Muhammad ﷺ di Kedua Khutbah

Rukun yang kedua dalam khutbah adalah mengucapkan shalawat kepada Nabi Muhammad swa di kedua khutbah. Adapun lafadz shalawat dengan menggunakan kata اَلصَّلَاةُ (as-shalatu) serta lafadz – lafadz yang sekata dengannya.

Kemudian kata tersebut disandingkan dengan asma atau nama Nabi Muhammad dan tidak terbatas pada kata Muhammad saja. Bisa menggunakan kata اَلرَّسُوْل (ar-Rasul), أَحْمَد (Ahmad), اَلنَّبِي (an-Nabi) dan sebagainya.

Walaupun boleh menggunakan kata selain Muhammad, tetapi harus disebutkan dengan jelas atau menggunakan isim dhahir dan tidak boleh menggunakan kata ganti orang kedua atau ketiga (isim dlamir).

Adapun contoh membaca shalawat yang benar dalam khutbah seperti اَلصَّلَاةُ عَلَى النَّبِي (ash-sholaatu ‘alan-Nabii), أَنَا مُصَلٍّ عَلَي مُحَمَّدٍ (ana mushallin ‘alaa Muhammad), أَنَا أُصَلِّى عَلَى رَسُوْلِ اللهِ (ana ushalli ‘ala Rasulillah).

Sementara itu kita dalam berkhutbah tidak boleh membaca shalawat seperti سَلَّمَ لَهُ عَلَى مُحَمَّدٍ (sallama lahu ‘ala Muhammad), رَحِمَ لَهُ مُحَمَّدًا (Rahima lahu Muhammadan).

Adapun alasannya karena kedua kata tersebut tidak menggunakan lafadz ash-sholatu atau lafadz yang sekata dengannya.

Kemudian tidak boleh juga membaca shalawat seperti صَلَّى لَهُ عَلَيْهِ (ِshalla lahu ‘alaihi). Alasannya karena dalam kata tersebut penyebutan nama Nabi Muhammad menggunakan kata ganti orang ketika yakni dalam kata lahu dan ‘alaihi.

Penting Diketahui: Nama Bayi Laki laki Islami

3. Berwasiat atau Mengajak Taqwa di Kedua Khutbah

Rukun khutbah selanjutnya adalah mengajak para hadirin atau jama’ah untuk selalu berbuat dalam ketakwaan kepada Allah dan juga Rasul-Nya.

Dalam rukun ini, tidak ada redaksi yang paten seperti memuji kepada Allah dan juga membaca shalawat.

Yang terpenting khatib atau orang yang berkhutbah berpesan untuk selalu berbuat kebaikan dan menjauhi segala keburukan.

Ada berbagai macam lafadz ajakan untuk selalu bertakwa kepada Allah pengucapan itu dengan menggunakan bahasa Arab seperti أَطِيْعُوا اللهَ (Athi’ullaha).

Artinya taat lah kalian kepada Allah, اتَّقُوا اللهَ (ittaqullaha), artinya bertakwalah kalian kepada Allah, اِنْزَجِرُوْا عَنِ الْمَعْصِيَّة (inzajiru ‘anil makshiat), artinya jauhilah maksiat.

Terkadang, ada juga ustadz dalam penyampaiannya khutbah idul fitri yang membuat jamaah menangis.

4. Membaca Ayat Suci Al-Qur’an Boleh pada Satu dari Dua Khutbah

Rukun khutbah selanjutnya adalah membaca ayat suci al-qur’an pada salah satu khutbah. Dalam membaca ayat sendiri harus mempunyai pemahaman makna yang utuh dan sempurna.

Ayat al-Qur’an ini bisa berkaitan dengan janji-janji, ancaman, mauizhah, cerita dan lain sebagainya. Contohnya

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللهَ وَكُونُواْ مَعَ الصَّادِقِينَ

  “Wahai orag-orang beriman, bertakwalah kepada Allah dan bersamalah orang-orang yang jujur”. (Q.S. at-Taubah: 119). 

Dalam membaca ayat al-Qur’an bisa dengan menggunakan satu ayat saja yang terpenting ayat tersebut memiliki pemahaman yang sempurna.

Akan tetapi jika ternyata satu ayat tersebut belum memiliki pemahaman yang sempurna, maka ayat tersebut bisa dirangkai atau dibaca dengan ayat seterusnya. 

Contoh ثُمَّ نَظَرَ “Kemudian dia memikirkan” (Q.S. Al-Muddatsir ayat 21). وَالْعَصْرِ “Demi masa” (Q.S. al-Ashr).

Kedua ayat tersebut belum memiliki pemahaman yang sempurna akan pesan yang akan disampaiakan. Maka agar memenuhi rukun khutbah dirangkailah ayat tersebut menjadi bisa difahami dengan sempurna.

Kemudian ketika membaca al-Qur’an di salah satu khutbah tersebut bisa di khutbah yang pertama atau pun yang kedua.

Akan tetapi yang lebih utama dibaca di khutbah yang pertama karena di khutbah yang kedua merupakan tempat untuk mendoakan orang muslimin.

5. Mendoakan Kaum Mukmin pada Khutbah Terakhir

Rukun selanjutnya dari khutbah adalah amendoakan kaum mukmin pada waktu khutbah terakhir. Dalam mendoakan kaum mukmin isi doanya disyaratkan harus mengandung doa nuansa akhirat.

Contoh:  اَللَّهُمَّ أَجِرْنَا مِنَ النَّارِ (Allahumma ajirnaa minan naar) “Ya Allah semoga Engkau menyelamatkan kami dari neraka”.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ (Allahummagfir lil muslimiina wal muslimaat) “Ya Allah ampunilah kaum muslimin dan muslimat”.

Dalam mendoakan kaum mukmin sendiri tidak sah atau tidak cukup hanya mengarah pada urusan yang bersifat duniawiah.

Contoh: اَللَّهُمَّ اَتِنَا مَالًا كَثِيْرًا (Allahumma aatinaa maalan katsiiran) “Ya Allah semoga Engkau memberi kami harta yang banyak”.

Adapun ketika khatib sama sekali tidak bisa berdoa yang sifatnya ukhrawi maka cukup bagi khatib untuk doa duniawi atau sebisanya.

Selanjutnya dalam khutbah idul fitri, pada khutbah yang pertama sang khatib disunnahkan membaca takbir sebanyak sembilan kali dan pada khutbah kedua disunnahkan membaca takbir sebanyak tujuh kali.

Dari rukun dan sunnah tersebut kemudian tatacara khutbah idul fitri sendiri khatib disyaratkan berdiri jika mampu kemudian membaca takbir sembilan kali lalu memuji Allah, sholawat kepada Nabi.

Kemudian berwasiat kapada para hadirin untuk selalu bertakwa kepada Allah. Untuk membaca ayat al-Qur’an bisa di awal khutbah pertama atau pun untuk menutup khutbah pertama.

Setelah itu disunnahkan kepada khatib untuk duduk sebentar untuk menyela diantara dua khutbah. Duduknya khatib ini disunnahkan, jadi ketika khatib tidak duduk setelah khutbah pertama maka hukumnya tidak masalah.

Setelah itu masuk dalam sesi khutbah yang kedua, disunnahkan membaca takbir tujuh kali kemudian khatib menjalankan rukun khutbah mulai 1 – 3. Agar lebih mudah dengan bahasa Arab kemudian mendoakan kaum muslimin.

Sudah Tau: Tata Cara dan Niat Puasa Senin Kamis yang Benar?

Contoh Naskah Teks Khutbah Idul Fitri Singkat

Contoh Khutbah Idul Fitri Pendek Singkat Padat - Bosmeal.com
Contoh Teks Naskah Khutbah Idul Fitri Pendek Singkat dan Padat

Setelah kita mengetahui bagaimana rukun khutbah idul fitri serta tatacaranya, berikut ini contoh teks khutbah idul fitri yang bisa kita gunakan.

Naskah Khutbah Idul Fitri I 2020

 اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ الْحَمْدُ ِللهِ الْمُنْعِمِ عَلَى مَنْ أَطَاعَهُ وَاتَّبَعَ رِضَاهُ، الْمُنْتَقِمِ مِمَّنْ خَالَفَهُ وَعَصَاهُ، الَّذِى يَعْلَمُ مَا أَظْهَرَهُ الْعَبْدُ وَمَا أَخْفَاهُ، الْمُتَكَفِّلُ بِأَرْزَاقِ عِبَادِهِ فَلاَ يَتْرُكُ أَحَدًا مِنْهُمْ وَلاَيَنْسَاهُ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَلَى مَاأَعْطَاهُ. أَشْهَدُ أَنْ لآ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ شَهَادَةَ عَبْدٍ لَمْ يَخْشَ إِلاَّ اللهَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِي اخْتَارَهُ اللهُ وَاصْطَفَاهُ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ أَمّأَبَعْدُ؛ فَيَآ أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تَقْوَاهُ وَاعْلَمُوْا أَنَّ يَوْمَكُمْ هٰذَا يَوْمٌ عَظِيْمٌ، وَعِيْدٌ كَرِيْمٌ، أَحَلَّ اللهُ لَكُمْ فِيْهِ الطَّعَامَ، وَحَرَّمَ عَلَيْكُمْ فِيْهِ الصِّيَامَ، فَهُوَ يَوْمُ تَسْبِيْحٍ وَتَحْمِيْدٍ وَتَهْلِيْلٍ وَتَعْظِيْمٍ وَتَمْجِيْدٍ، فَسَبِّحُوْا رَبَّكُمْ فِيْهِ وَعَظِّمُوْهُ وَتُوْبُوْا إِلَى اللهِ وَاسْتَغْفِرُوْهُ

Ya ma’asyiral muslimin rohimakumullah

Pertama, marilah kita tingkatkan ketaqwaan kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan segenap kemampuan berusaha melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. 

Dengan mengucap rasa syukur Alhamdulillah di hari yang penuh kemuliaan dan kemenangan ini, kita seluruh umat Islam di seluruh dunia memperingati hari raya setelah sebulan penuh berpuasa Ramadhan, yaitu hari raya Idul Fitri. 

Ya ma’asyiral muslimin rohimakumullah, di hari raya Idul Fitri ini merupakan hari raya kemenangan umat Islam. Kita sebagai umat Islam sudah seharusnya mengetahui apa makna dari Idul Fitri itu sendiri. 

Kata “id” berasal dari akar kata aada – ya‘uudu yang berarti kembali. Sementara itu kata fitri sering dimaknai dengan berbuka bagi orang yang berpuasa.

Idul fitri sendiri bisa dimaknai dengan kembali berbuka puasa setelah sebulan penuh melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan. 

Selain berarti berbuka, kata Fitri juga memiliki arti fitrah yang artinya agama yang benar dan tabiat asal kejadian manusia.

Artinya setiap orang yang berpuasa selama bulan Ramadhan dengan iman dan ikhlas karena Allah, akan diampuni segenap dosanya yang telah lampau.

Pada hari raya idul fitri ini kita umat Islam kembali pada fitrah, bagaikan bayi yang suci dan bersih dari segala dosa, kesalahan, kejelekan, dan keburukan.

Nabi sendiri bersabda: وَمَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ (wa man shomaa romadhoona iimaanan wahtisaaban ghufiro lahuu maa taqoddama min danbihi).

Artinya: “Barangsiapa puasa di bulan Ramadhan dengan iman dan ikhlas karena Allah, diampuni dosa-dosanya yang telah lampau.”  

Melihat hadis di atas sudah pahala dari orang yang berpuasa Ramadhan dengan ikhlas dan penuh keimanan maka pada hari ini ia akan terbebas dari segala dosa dosanya bagaikan bayi yang baru lahir. Sebagaimana sabda Nabi:

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ، أَوْ يُنَصِّرَانِهِ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

(kullu mauluudin yuuladu ‘alal fithroti, fa abwaahu yuhawwidaanihi, au yunasshuroonihi, au yumajjisaaniho)

Artinya “Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan suci (Islam). Kedua orang tuanya yang akan menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.

Ya ma’asyiral muslimin rohimakumullah, Dalam merayakan idul fitri, orang-orang merayakannya menjadi tiga bagian.

Bagian yang pertama, cara beridul fitri orang cerdas dan berakal. Sebagai umat islam yang cerdas, idul fitri merupakan sebuah kesempatan untuk menambah ketaatan dan ibadah kepada Allah.

Salah satu cara untuk menambah pahala dan ketaatan itu bisa dengan silaturrahim, halal bihalal, saling bermaafan, memberi sedekah, menolong orang lain dan sebagainya.

Bagian yang kedua yakni cara merayakan idul fitrinya orang bodoh. Orang orang ini beridul fitri dengan cara melampiaskan segala hawa nafsunya setelah sebulan penuh dia menahannya.

Mereka lebih suka melampiaskan hawa nafsunya, seperti mencela, menghina, membuat ujaran kebencian, menebarkan hoaks, dan memecah belah umat Islam.

Terakhir merupakan cara merayakan idul fitrinya anak anak dan orang yang khilaf.

Para anak anak dan orang yang khilaf lebih suka merayakan idul fitri dengan bersenang-senang, membeli baju baru, bermain bersama teman-teman dan sebagainya.

Ya ma’asyiral muslimin rohimakumullah

Untuk menjadi bagian dari orang cerdas dan berakal, kita harus menghidupkan tradisi yang amat baik selepas Idul Fitri, yaitu tradisi saling memaafkan antara satu dengan yang lainnya.

Tradisi saling memaafkan ini lebih dikenal halal bi halal. Kita yang memiliki kesalahan kepada yang disalahi. Begitu pun sebaliknya, jika ada yang punya salah kepada kita harus kita maafkan. 

Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Q.S. Al-A’raf ayat 199: 

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

(khudzil ‘afwa wa’mur bil ma’rufi wa a’ridl ‘anil jaahiliina)

yang artinya Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh. 

Ditambah lagi adanya hadis uang menjelaskan jika ada orang yang bersalah harus segera meminta maaf atas kesalahan yang diperbuatnya. Hal ini seperti sabda Nabi:

 مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ، فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ اليَوْمَ، قَبْلَ أَنْ لاَ يَكُونَ  دِينَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ، إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ، وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ  

(man kaanat lau madhlamattun liakhiihi min ‘irdlihi au syai’in, falyatahallalahu minhul yauma, qobla an laayakuuna diinaarun au dirhaamun, inkaana lahuu ‘amalun sholihun ukhidza minhu biqodri madhlamatihi, wa inlamtakun lahuu hasanaatun ukhidza min sayyiaati shohibihi fahumila ‘alaihi)

Artinya: “Barangsiapa memiliki kesalahan terhadap saudaranya, baik moral maupun material, segera meminta kehalalannya hari itu juga, sebelum sampai pada hari tiada dinar dan dirham. Jika hal tersebut terjadi, bila ia memiliki amal baik, maka amal tersebut akan diambil sesuai kadar kesalahannya. Akan tetapi jika ia tidak memiliki kebaikan, maka kesalahan dari saudara yang ia salahi akan ditimpakan kepadanya.”

Dari firman Allah dan juga hadis Nabi di atas dan juga sekarang sedang dalam masa hari raya, mari kita saling memaafkan.

Dalam momentum yang sangat berharga ini mari kita gunakan sebaik-baiknya agar termasuk dalam golongan orang-orang yang cerdas dan berakal.

Ya ma’asyiral muslimin rohimakumullah

Pada malam hari raya idul fitri, bagi kita yang mampu diperintahkan untuk perduli dengan sesamanya. Agar saudara kita yang kurang mampu dapat merasakan momen bahagia hari raya idul fitri.

Untuk itulah kita diperintahkan untuk berbagi dengan cara mengeluarkan zakat fitrah sebanyak satu sha’ atau kurang lebih beras 2,75 kg. 

Nabi bersabda: 

 فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ، وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِين مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلَاةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلَاةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ

(faradla Rasulullah saw zakaatal fithri thuhrotan lisshooimi minal laghwi war rofatsi, wa tu’matan lil masaakiini man addaahaa qoblash sholaati fahiya zakaatun mqbuulatun wa man addaaha ba’dash sholaati fahia shodaqotun minash shodaqooti)

Artinya: “Rasulullah mewajibkan zakat fitrah untuk menyucikan orang yang puasa dari kejelekan dan untuk memberikan makan bagi orang miskin. Barang siapa yang membayar zakat fitrah sebelum shalat id, maka zakat fitrah itu yang diterima. Dan siapa yang membayar zakat usai shalat id, maka zakat itu dianggap sebagai sedekah pada umumnya.” (HR Ibnu Majah)  

Zakat fithrah memiliki tujuan untuk mensucikan diri dari segala bentuk kesalahan, perkataan kotor, ujaran kebencian dan sebagainya selama puasa.

Selain itu juga zakat fitrah memiliki tujuan mulia untuk berbagi kepada sesama yang kurang mampu agar semuanya saling berbahagia tanpa adanya rasa kecewa. 

Melihat keterangan tersebut membuat kita sadar bahwa agama Islam merupakan agama yang tidak hanya memperhatikan ibadah kepada Allah swt. semata, tetapi juga hubungan kita sesama manusia.

Ya ma’asyiral muslimin rohimakumullah   

Dari khutbah idul fitri pendek dan singkat ini ada pelajaran penting yang dapat kita ambil.

Dalam merayakan idul fitri bukan dengan pakaian bagus, kendaraan baru, tetapi lebih pada untuk meningkatkan ibadah kita agar lebih bertakwa kepada Allah swt.

Ibadah yang kita lakukan sebelum dan selama bulan puasa marilah kita tingkatkan untuk menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. Aamiin ya robbal ‘aalamiin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِى وَإِيَّاكثمْ بِفَهْمِهِ إِنَّهُ هُوَ الْبِرّ ُالرَّحِيْمِ

Teks Khutbah Idul Fitri II 2020

اَللهُ أَكْبَرُ 7×، اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. فَيَاعِبَادَ اللهِ اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ  قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِيْ كِتَابِهِ اْلعَظِيْمِ “إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيِّ, يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا”. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ اَلِهِ وَأًصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ. وَعَلَيْنَا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ 

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِماَتِ, وَاْلمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ, اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ يَا قَاضِيَ اْلحَاجَاتِ. رَبَّنَا افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِاْلحَقِّ وَأَنْتَ خَيْرُ اْلفَاتِحِيْنَ. رَبَّنَا أَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

 عِبَادَ اللهِ إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهىَ عَنِ اْلفَحْشَاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ يَذْكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Allahu akbar 7x. Alhamdulillahirobbil ‘aalamin. Asyhadu an lailahaillah wahdahu laa syariikalah. Wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rosuuluh.

Allahumma sholli wa sallim ‘alaa sayyidinaa muhammad. Wa ‘alaa aalihi wa ashhabihi ajma’iin. Fa ya ‘ibaadallah, ittaqullaha haqqo tuqootihi wa laa tamuutunna illaa wa antum muslimuun.

Qoola Allahu ta’ala fi kitaabihil ‘adhim “Innallaha wa malaaikatahu yusholluuna ‘alan nabiy. Ya ayyuhalladziina aamanuu sholluu ‘alaihi wa sallimuu tasliimaa”

Allahumma shollii wa sallim ‘ala sayyidinaa Muhammad wa ‘alaa aalihii wa ashhabihii ajma’iin. wat taabi’iina wa taabi’it taabiin wa man tabi’ahum bi ihsaanin ilaa yaumid diin.

Wa ‘alainaa ma’ahum birohmatika yaa arhamarroohimiin.

Allahummagfir lil muslimiina wal muslimaat, wal mukminiina wal mukminaat, al ahyaa i minhum wal amwaat, innaka samii’un qoriibun mujiibud da’awaat, yaa qodliyal haajaat.

Robbanaftah bainanaa wa baina qouminaa bil haqqi wa anta khoirul faatihiin. Robbanaa aatinaa fiddunyaa hasanah wa fil aakhiroti hasanah wa qinaa ‘adzaaban naar.

‘Ibaadallah, innallaha ya’muru bil ‘adli wal ihsaan, wa iitaa i dzil qurbaa wa yanhaa ‘anil fahsyaa i wal munkari wal baghyi, ya’idhukum la’allakum tadzakkaruun.

Fadzkurullaha yadzkurukum wad’uuhu yastajib lakum wa ladzikrullahi akbar.

Nah itu tadi contoh teks naskah khutbah idul fitri yang bisa kita gunakan, semoga amal dan ibadah kita diterima oleh Allah swt. Aamin ya robbal aalamiin.

Leave a Reply